Arsip

Archive for Oktober, 2011

Mengenal Salaf dan Salafi

Oktober 18, 2011 Tinggalkan komentar

Para pembaca yang budiman -semoga Allah menunjuki kita kepada kebenaran-. Salaf dan salafi mungkin merupakan kata yang masih asing bagi sebagian orang atau kalau toh sudah dikenal namun masih banyak yang beranggapan bahwa istilah ini adalah sebutan bagi suatu kelompok baru dalam Islam. Lalu apa itu sebenarnya salaf? Dan apa itu salafi? Semoga tulisan berikut ini dapat memberikan jawabannya.

 

Pengertian Salaf

Salaf secara bahasa berarti orang yang terdahulu, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah yang artinya, “Maka tatkala mereka membuat Kami murka, Kami menghukum mereka lalu kami tenggelamkan mereka semuanya (di laut)Dan Kami jadikan mereka sebagai SALAF dan contoh bagi orang-orang yang kemudian.” (QS. Az Zukhruf: 55-56), yakni kami menjadikan mereka sebagai SALAF -yaitu orang yang terdahulu- agar orang-orang sesudah mereka dapat mengambil pelajaran dari mereka (salaf). Oleh karena itu, Fairuz Abadi dalam Al Qomus Al Muhith mengatakan, “Salaf juga berarti orang-orang yang mendahului kamu dari nenek moyang dan orang-orang yang memiliki hubungan kekerabatan denganmu.” (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani, ‘Amr Abdul Mun’im Salim dan Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih, Abdullah bin Abdul Hamid Al Atsary)

Kata ‘Salaf’ Tidaklah Asing di Kalangan Ulama

Mungkin banyak orang saat ini yang merasa asing dengan kata salaf, namun kata ini tidaklah asing di kalangan ulama. Imam Bukhari -ahli hadits terkemuka- menuturkan, “Rasyid bin Sa’ad mengatakan, ‘Dulu para SALAF menyukai kuda jantan, karena kuda seperti itu lebih tangkas dan lebih kuat’.” Kemudian Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa salaf tersebut adalah para sahabat dan orang setelah mereka.

Imam Nawawi -ulama besar madzhab Syafi’i- mengatakan dalam kitab beliau Al Adzkar, “Sangat bagus sekali doa para SALAF sebagaimana dikatakan Al Auza’i rahimahullah Ta’ala, ‘Orang-orang keluar untuk melaksanakan shalatistisqo’ (minta hujan), kemudian berdirilah Bilal bin Sa’ad, dia memuji Allah …’.” Salaf yang dimaksudkan oleh Al Auza’i di sini adalah Bilal bin Sa’ad, dan Bilal adalah seorang tabi’in. (Lihat Al Manhajus Salaf ‘inda Syaikh al-Albani)

Siapakah Salaf?

Salaf menurut para ulama adalah sahabattabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush sholih (orang-orang terdahulu yang sholih). Merekalah tiga generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.” (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim, Bukhari dan Tirmidzi). Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mempersaksikan ‘kebaikan’ tiga generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at Allah, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih danMu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)

Wajib Mengikuti Jalan Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?

Allah telah meridhai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshor serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. At-Taubah: 100). Untuk mendapatkan keridhaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.

Allah juga memberi ancaman bagi siapa yang mengikuti jalan selain orang mukmin. Allah Ta’ala berfirman yang artinya, “Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa: 115). Yang dimaksudkan dengan orang-orang mukmin ketika ayat ini turun adalah para sahabat (para salaf). Barangsiapa yang menyelisihi jalan mereka akan terancam kesesatan dan jahannam. Oleh karena itu, mengikuti jalan salaf adalah wajib.

Menyandarkan Diri Pada Salafush Sholih

Setelah kita mengetahui bahwa mengikuti jalan hidup salafush sholih adalah wajib, maka bolehkan kita menyandarkan diri pada salaf sehingga disebut salafi (pengikut salaf)? Tidakkah ini termasuk golongan/kelompok baru dalam Islam?

Jawabannya kami ringkas sebagai berikut: [1] Istilah salaf bukanlah suatu yang asing di kalangan para ulama, [2] Keengganan untuk menyandarkan diri pada salaf berarti berlepas diri dari Islam yang benar yang dianut oleh salafush sholih, [3] Kenapa penyandaran kepada berbagai madzhab/paham dan pribadi tertentu seperti Syafi’i (pengikut Imam Syafi’i) dan Asy’ari (pengikut Abul Hasan Al Asy’ari) tidak dipersoalkan?! Padahal itu adalah penyandaran kepada orang yang tidak luput dari kesalahan dan dosa!! [4] Salafi adalah penyandaran kepada kema’shuman secara umum (keterbebasan dari kesalahan) sehingga memuliakan seseorang, [5] Penyandaran kepada salaf bertujuan untuk membedakan dengan kelompok lainnya yang semuanya mengaku bersandar pada Al Qur’an dan As Sunnah, namun tidak mau beragama (bermanhaj) seperti salafush sholih yaitu para sahabat dan pengikutnya. (Lihat Al Manhajus Salafi ‘inda Syaikh al-Albani).

Kesimpulannya sebagaimana dikatakan Syaikh Salim Al Hilali, “Penamaan salafi adalah bentuk penyandaran kepada salaf. Penyandaran seperti ini adalah penyandaran yang terpuji dan cara beragama (bermanhaj) yang tepat. Dan bukan penyandaran yang diada-adakan sebagai madzhab baru.” (Limadza Ikhtartu Al Manhaj As Salaf)

Solusi Perpecahan Umat

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah memberikan solusi mengenai perpecahan umat Islam saat ini untuk berpegang teguh pada sunnah Nabi dan sunnah khulafa’ur rasyidin -yang merupakan salaf umat ini-. Beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Dan sesungguhnya orang yang hidup di antara kalian akan melihat perselisihan yang banyak, maka berpegang teguhlah kalian terhadap sunnahku dan sunnah khulafa’rosyidinyang mendapat petunjuk. Maka berpegang teguh dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham.” (Hasan Shohih, HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Jalan Salaf Adalah Jalan yang Selamat

Orang yang mengikuti jalan hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sahabatnya (salafush sholih) inilah yang selamat dari neraka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya, “Yahudi telah terpecah menjadi 71 golongan; satu golongan masuk surga, 70 golongan masuk neraka. Nashrani terpecah menjadi 72 golongan; satu golongan masuk surga, 71 golongan masuk neraka. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, umatku akan terpecah menjadi 73 golongan; satu golongan masuk surga dan 72 golongan masuk neraka. Ada sahabat yang bertanya,’Wahai Rasulullah! Siapa mereka yang masuk surga itu?’ Beliau menjawab, ‘Mereka adalah Al-Jama’ah‘.” (HR. Ibnu Majah, Abu Daud, dishahihkan Syaikh Al Albani). Dalam riwayat lain para sahabat bertanya,’Siapakah mereka wahai Rasulullah?‘ Beliau menjawab,‘Orang yang mengikuti jalan hidupku dan para sahabatku.‘ (HR. Tirmidzi)

Sebagai nasihat terakhir, ‘Ingatlah, kata salafi -yaitu pengikut salafush sholih– bukanlah sekedar pengakuan (kleim) semata, tetapi harus dibuktikan dengan beraqidah, berakhlak, beragama (bermanhaj), dan beribadah sebagaimana yang dilakukan salafush sholih.’

Ya Allah, tunjukilah kami pada kebenaran dengan izin-Mu dari jalan-jalan yang menyimpang dan teguhkan kami di atasnya. Alhamdulillahillazi bi ni’matihi tatimmush sholihaat. Wa shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam.

***

Disusun oleh: Muhammad Abduh Tuasikal
Muroja’ah: Ustadz Syamsuri (Pengajar Ma’had Jamilurrohman)
Artikel http://www.muslim.or.id

Kategori:Uncategorized

Wasiat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam..

Oktober 10, 2011 Tinggalkan komentar

“Janganlah engkau bertentangan denga ulil amri (pemerintah), meskipun engkau memandang bahwa engkaulah lebih benar daripadanya.(HR.Bukhari, Ahmad 5/238, Ibnu Majah no.4034, Thabrani)”

Allah berfirman: “Hai orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul, dan kepada pemimpin diantara kamu. Jika kalian berselisih dalam sesuat…umaka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah)… (An-Nisa’: 59)

Dalam kitab Aqidah at-Thohawiyah dijelaskan: “Kita tidak boleh keluar dari para penguasa yang bertanggung jawab atas urusan kita, sekali pun mereka telah berbuat zhalim. Tidak boleh mendo’akan kejelekan bagi mereka dan tidak boleh melepas tangan dari ketaatan kepada mereka. Kita menganggap bahwa taat kepada penguasa muslim berarti taat kepada Allah yang wajib atas kita, kecuali mereka memerintahkan kemaksiatan kepada Allah. Kita juga mendo’akan mereka kebaikan dan kesejahteraan.”

Dari Hudzaifah bin Yaman bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.. bersabda:

“Akan ada sepeninggalku para pemimpin yang tidak mengambil petunjuk dari petunujukku dan tidak mengambil sunnah dengan sunnahku. Akan muncul ditengah-tengah kalian pemimpin yang berhati syaitan dalam wujud manusia” Aku (Hudzaifah) bertanya: “Apa yang aku harus perbuat jika aku mendapatinya?” (Hendaklah kalian mendengar dan taat kepada pemimpinmu meskipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu (korup).” (HR. Muslim no. 1847 (52)).

Jika seandainya kita melihat Ulil amri yang ada melakukan kesalahan, berbuat kezhaliman atau melakukan dosa besar, maka kewajiban kita adalah menasehatinya dengan cara yang baik, tidak mencaci maki, mencela, apalagi mengadakan demonstrasi, membeberkan kesalahan didepan umum atau dengan cara-cara lainnya yang bukan dari Islam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Barangsiapa yang ingin menasehati pemimpin, maka janganlah menampakkan secara terang-terangan, akan tetapi hendaklah ia memegang tangannya, kemudian ia menasehati berdua, jika ia menerima itulah yang dikehendaki, jika tidak maka sesungguhnya ia telah menunaikan (kewajiban) yang ada padanya (HR. Ahmad, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Kitabnya As-Sunnah)

Oleh karena itu ketika menghadapi penguasa yang demikian, maka kewajiban kita adalah taat dan sabar, yang insya Allah semua itu akan menghapuskan dosa dan kesalahan kita selama ini, dibanding dengan keluar (membelot) dari mereka akan mengakibatkan kerusakan yang lebih besar lagi.

Dari Anas bin Malik, bahwa ia berkata: “Para pembesar melarang kami untuk menyelesihi Ulil Amri, mereka berkata: bahwa Rasulullah saw bersabda:

“Janganlah kalian mencela pemimpin-pemimpin kalian, janganlah kalian dengki kepada mereka dan janganlah membenci mereka, (tetapi) bertaqwalah kepada Allah dan bersabarlah, sesungguhnya perkara ini sudah dekat.” (HR. Ibnu Abi ‘Asyim, Hadits shahih)

Adanya penguasa yang zhalim dan tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, adalah suatu musibah yang disebabkan karena dosa kaum muslimin itu sendiri. Sehingga Allah menurunkan kepada kaum muslimin pemimpin-pemimpin yang zhalim akibat dosa dan kesalahan yang telah mereka perbuat.

Allah berfirman:

“Apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri” (Asy-Syuura: 30)

“Dan demikian Kami jadikan sebagian orang-orang yang zhalim itu teman bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang telah mereka usahakan”. (Al-An’am: 129)

Pada saat Rasulullah bertindak sebagai ulil Amri beliau pernah mewanti-wanti umatnya dengan sabdanya melalui shahabat Ibnu Umar: Barangsiapa yang memberontak kepada kami dengan senjata, maka dia bukan termasuk ke dalam golongan kami. (bukan dari Islam) (HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah menjelaskan: “Bahwa jalan keluar dari semua permasahalan sekarang ini adalah:

Pertama: Dengan bertobah kepada Allah.
Kedua: Membersihkan aqidah mereka dan
Ketiga: Mendidik diri dan keluarga di atas Islam yang benar.

Bukan dengan cara yang kita lihat sekarang ini seperti yang dilakukan oleh kaum muslimin dengan cara memberontak, kudeta dan lain-lainnya, dimana semua cara tersebut tidak dibenarkan dalam syari’at Islam yang mulia ini, dan justru hanya membuat kerusakan yang lebih besar lagi bagi kaum muslimin itu sendiri. (syarah Ta’liq Aqidah Thahawiyah)

Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin menjelaskan:

“Perhatikan manhaj salafus shalih dalam bermuamalah dengan penguasa. Janganlah kesalahan-kesalahan penguasa dijadikan jalan untuk membangkitkan emosi rakyat atau untuk menjauhkan hati rakyat dari penguasa, karena ini akan membawa kepada kesususahan dan merupakan pokok terjadinya fitnah. Bila sudah tidak ada lagi penguasa dan ulama’ maka hilang syari’at dan rasa aman” (Mu’malatul Hukkam fil Dauil Kitab wa Sunnah).

Sebagai penutup uraian ini, kami menasehati kaum muslimin agar berhati-hati dan tidak terjadi kepada tindakan mencela, mendemo para pemimpin kita. Ingatlah sabda Rasulullah:

“Baransiapa yang taat kepadaku sungguh dia telah taat kepada Allah, barangsiapa yand durhaka kepadaku, sungguh dia telah durhaka kepada Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpin, sungguh dia telah taat kepadaku. Barangsiapa yang durhaka (menentang) kepada pemimpin berarti dia telah durhaka kepadaku. (Hadits Shahih Riwayat Bukhari 4/384 dan Muslim 6/14, dan Nasa’i)

Kategori:Uncategorized