KRISTEN ORTODOKS SYIRIA = MIRIP ISLAM (Tapi BUKAN ISLAM)

http://alqiyamah.wordpress.com/2011/02/27/waspada-ajaran-kos-kristen-ortodok-syiria-jangan-tertipu-dengan-pakaian-simbol2-dll-yang-mirip-dengan-ajaran-islam/

Iklan
Kategori:Uncategorized

Bid’ah Hasanah >>>>>>> Tak Seindah Namanya

Juli 30, 2012 1 komentar

Pendapat yang mengatakan adanya bid’ah hasanah (yang baik) dalam Islam termasuk fitnah dan musibah terbesar dari berbagai macam fitnah dan musibah yang menimpa ummat ini. Bagaimana tidak, perkataan ini pada akhirnya akan menghalalkan semua bentuk bid’ah dalam agama yang pada gilirannya akan merubah syari’at-syari’at agama Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah dibakukan tatkala Dia mewafatkan NabiNya Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam. Yang lebih celaka lagi, fitnah ini telah memakan banyak korban tanpa pandang bulu, mulai dari orang awwam yang tidak paham tentang agama sampai seorang yang dianggap tokoh agama yang telah meraih berbagai macam gelar –baik yang resmi maupun yang tidak- dalam ilmu agama Islam, semuanya berpendapat akan adanya bid’ah yang baik dalam Islam. Maka betapa buruknya nasib umat ini bila orang-orang yang membimbing mereka, yang mereka anggap tokoh agama berpendapat dengan pendapat ‘aneh’ seperti ini, inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

A. Dalil-Dalil Tentang Buruk dan Tercelanya Semua Bentuk Bid’ah Tanpa Terkecuali.

Berikut beberapa dalil sam’iy (Al-Kitab dan AS-Sunnah) dan dalil akal yang menunjukkan akan jelek, tercela dan tertolaknya semua bentuk bid’ah :

1. Hadits Jabir riwayat Muslim :

“Dan sejelek-jelek perkara adalah yang diada-adakan dan setiap bid’ah adalah sesat”.

2. Hadits ‘Irbadh bin Sariyah :

“Dan hati-hati kalian dari perkara yang diada-adakan karena setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan”. (HR. Ashhabus Sunan kecuali An-Nasa`i)

Berkata Imam Ibnu Rajab rahimahullah dalam Jami’ul ‘Ulum wal Hikam : “Maka sabda beliau “semua bid’ah adalah kesesatan”, termasuk dari jawami’ul kalim yang tidak ada sesuatupun (bid’ah) yang terkecualikan darinya, dan hadits ini merupakan pokok yang sangat agung dalam agama”.

Dan berkata Al-Imam Asy-Syathiby rahimahullah dalam Al-I’tishom (1/187), “Sesungguhnya dalil-dalil –bersamaan dengan banyaknya jumlahnya- datang secara mutlak dan umum, tidak ada sedikitpun perkecualian padanya selama-lamanya, dan tidaklah datang dalam dalil-dalil tersebut satu lafadzpun yang mengharuskan adanya di antara bid’ah-bid’ah itu yang merupakan petunjuk (hasanah), dan tidak ada dalam dalil-dalil tersebut penyebutan “semua bid’ah adalah kesesatan kecuali bid’ah ini, bid’ah ini, …”, dan tidak ada sedikitpun dari dalil-dalil tersebut yang menunjukan akan makna-makna ini (pengecualian)”.

3. Hadits ‘A`isyah radhiallahu ‘anha:

“Siapa saja yang mengadakan perkara baru dalam urusan kami ini apa-apa yang bukan darinya maka dia tertolak”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah)

Berkata Imam Asy-Syaukany dalam Nailul Author (2/69) : “Hadits ini termasuk dari kaidah-kaidah agama karena masuk didalamnya hukum-hukum tanpa ada pengecualian. Betapa jelas dan betapa menunjukkan akan batilnya pendapat sebagian fuqoha` (para ahli fiqhi) yang membagi bid’ah menjadi beberapa jenis dan mengkhususkan tertolaknya bid’ah hanya pada sebagian bentuknya tanpa ada dalil naql (Al-Kitab dan As-Sunnah) yang mengkhususkannya dan tidak pula dalil akal”.

4. Ijma’ para ulama Salaf dari kalangan Shahabat, tabi’in dan para pengikut mereka dengan baik akan tercela dan jeleknya semua bid’ah serta wajibnya memperingatkan kaum muslimin darinya dan dari para pelakunya.

B. Penyebutan Syubhat-Syubhat Orang Yang Berpendapat Akan Adanya Bid’ah Hasanah Dalam Islam Beserta Bantahannya.

Di sini saya akan menyebutkan tujuh syubhat terbesar yang biasa di gembar-gemborkan oleh orang-orang yang menyatakan adanya bid’ah hasanah dalam Islam, yang hakikat dari semua syubhat mereka adalah lebih lemah dari sarang laba-laba karena syubhat-syubhat ini tidak lepas dari dua keadaan: Apakah dalilnya shohih tapi salah memahami ataukah sekedar perkataan para ulama yang telah diketahui bersama bahwa perkataan mereka bukanlah hujjah ketika menyelisihi dalil. Berikut penyebutan syubhat-syubhat mereka :

1. Surah Al-Hadid ayat 27 :

“Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka tetapi untuk mencari keridhaan Allah, lalu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya”.

Bantahan :

FirmanNya “tetapi untuk mencari keridhaan Allah” ada dua kemungkinan :

1. Bila kembalinya kepada firmanNya “Dan mereka mengada-adakan rahbaniyyah”, maka ini berarti celaan buat mereka karena mereka berbuat bid’ah dan memunculkan suatu peribadatan yang tidak pernah diwajibkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka, kemudian bersamaan dengan itu mereka tidak memeliharanya dengan pemeliharaan yang semestinya.

2. Bila kembalinya kepada firmanNya “padahal Kami tidak mewajibkannya kepada mereka”, maka menunjukkan bahwa mereka memunculkan suatu peribadatan baru yang disetujui oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala atas mereka. Akan tetapi ayat ini bercerita tentang syari’at umat sebelum kita (Nashara) dan syari’at umat sebelum kita –menurut pendapat yang paling kuat- bukanlah menjadi syari’at kita jika bertentangan dengan dalil yang datang dalam syari’at kita. Dan telah berlalu dalil-dalil yang sangat banyak akan larangan dan ancaman berbuat bid’ah dalam agama kita dan bahwa semua bentuk bid’ah adalah tertolak.

2. Hadits Jarir bin ‘Abdillah Al-Bajaly radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam bersabda :

“Barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang baik maka baginya pahalanya dan pahala semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari pahala mereka sedikitpun, dan barangsiapa yang membuat sunnah dalam Islam sunnah yang jelek maka atasnya dosanya dan dosa semua orang yang mengamalkannya setelahnya tanpa mengurangi dari dosa mereka sedikitpun”. (HR. Muslim)

Dari hadits di atas mereka mengeluarkan pendalilan, kalau begitu bid’ah –sebagaimana sunnah- juga terbagi menjadi dua ; ada yang baik dan ada yang jelek.

Bantahan:

1. Sesungguhnya makna sabda beliau “Barangsiapa yang membuat sunnah” adalah “barangsiapa yang mengamalkan sunnah” bukan maknanya “barangsiapa yang membuat syari’at (sunnah) yang baru”, hal ini sebagaimana ditunjukkan oleh sababul wurud (sebab terucapkannya) hadits ini dalam riwayat Muslim (no. 1017), yang ringkasnya : Bahwa sekelompok orang dari Bani Mudhor datang ke Medinah dan nampak dari kondisi mereka kemiskinan dan kesusahan, lalu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memberikan motovasi kepada para shahabat untuk bersedekah. Maka datanglah seorang lelaki dari Al-Anshor dengan membawa makanan yang hampir-hampir tangannya tidak mampu untuk mengangkatnya, setelah itu beruntunlah para shahabat yang lain mengikutinya juga untuk memberikan sedekah lalu beliaupun mengucapkan hadits di atas.

Maka dari kisah ini jelas menunjukkan bahwa yang diinginkan dalam hadits adalah “Barangsiapa yang beramal dengan amalan yang tsabit dari sunnah Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam …”, karena sedekah bukanlah perkara bid’ah akan tetapi sunnah dari sunnah beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam.

2. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam mensifati “sunnah” dalam hadits ini dengan “yang baik” dan “yang jelek”, dan sifat seperti ini (baik dan jelek) tidak mungkin diketahui kecuali dari sisi syari’at. Maka hal ini mengharuskan bahwa kata “sunnah” dalam hadits maksudnya adalah amalan yang punya asal dari sisi syari’at, apakah baik ataupun buruk, sedangkan bid’ah adalah amalan yang sama sekali tidak memiliki asal dalam syari’at.

3. Tidak dinukil dari seorangpun dari kalangan para ulama Salaf yang menafsirkan sunnah yang hasanah dalam hadits ini adalah bid’ah yang dimunculkan oleh manusia.

3. Hadits ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu bahwa Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam –menurut sangkaan mereka- bersabda :

“Maka perkara apa saja yang kaum muslimin menganggapnya baik maka itu juga baik di sisi Allah dan perkara apa saja yang mereka anggap jelek maka itu jelek di sisi Allah”.

Mereka mengatakan : “Maka bila suatu bid’ah dianggap baik oleh kaum muslimin di zaman ini maka berarti bid’ah itu baik juga di sisi Allah”.

Bantahan:

1. Hadits ini tidak shohih secara marfu’ dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, akan tetapi yang benarnya ini adalah mauquf dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu. Berikut perkataan sebagian ulama tentang hal ini :

· Berkata Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Al-Farusiah (hal. 167) : “Sesungguhnya atsar ini bukan dari sabda Rasullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, dan tidak ada seorangpun yang menjadikan perkataan ini sebagai sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam kecuali orang yang tidak memiliki ilmu tentang hadits, yang benarnya perkataan ini hanya tsabit dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu”.

· Berkata Ibnu ‘Abdil Hadi sebagaimana dalam Kasyful Khofa` (2/245) : “Diriwayatkan secara marfu’ dari hadits Anas dengan sanad yang saqit (jatuh/sangat lemah) dan yang benarnya ini adalah mauquf dari perkataan Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu”.

2. Yang diinginkan oleh Ibnu Mas’ud radhiallahu ‘anhu dengan perkataan beliau “kaum muslimin” dalam hadits ini adalah mereka para sahabat radhiallahu ‘anhum, karena “Al” dalam kata “al-muslimun” hadits ini bermakna lil ‘ahd adz-dzihni (yang langsung terpahami oleh fikiran ketika membaca hadits ini), sehingga makna haditsnya adalah “Perkara apa saja yang kaum muslimin yang ada di zaman itu …”. Hal ini ditunjukkan oleh potongan awal hadits ini :

“Sesungguhnya Allah melihat ke hati para hambaNya dan Dia mendapati hati Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam adalah sebaik-baik di antara hati-hati para hamba maka Diapun memilihnya untuk diriNya dan mengutusnya dengan risalahNya. Kemudian Allah melihat lagi ke hati para hamba setelah hati Muhammad dan Dia mendapati hati para shahabat adalah sebaik-baik hati para hamba maka Diapun menjadikan mereka sebagai pembantu-pembantu NabiNya yang mereka itu berperang dalam agamaNya. Maka apa-apa yang dianggap baik oleh kaum muslimin maka hal itu baik di sisi Allah dan apa-apa yang jelek menurut kaum muslimin maka hal itu jelek di sisi Allah”.

Ini menunjukkan bahwa kaum muslimin yang diinginkan di akhir hadits adalah mereka yang disebutkan di awal hadits.

3. Bagaimana bisa mereka berdalil dengan perkataan shahabat yang mulia ini untuk menganggap suatu bid’ah, padahal beliau radhiallahu ‘anhu adalah termasuk dari para shahabat yang paling keras melarang dan mentahdzir dari semua bentuk bid’ah?!, dan telah berlalu sebagian dari perkataan beliau radhiallahu ‘anhu.

4. Kalau hadits ini diterima dan maknanya seperti apa yang hawa nafsu kalian inginkan, maka ini akan membuka pintu yang sangat berbahaya untuk berubahnya agama. Karena setiap pelaku bid’ah akan bersegera membuat bid’ah yang bentuknya disukai dan sesuai dengan selera manusia, dan ketika dilarang diapun berdalilkan dengan hadits di atas, Wallahul musta’an.

4. Dalil mereka selanjutnya adalah perkataan ‘Umar bin Khoththob radhiallahu ‘anhu yang masyhur tentang sholat Tarwih secara berjama’ah di malam bulan Ramadhan :

“Sebaik-baik bid’ah adalah ini”. (HR. Al-Bukhari)

Mereka berkata : “Kalau begitu ada bid’ah yang baik dalam Islam”.

Bantahan:

1. Perbuatan ‘Umar radhiallahu ‘anhu dengan cara mengumpulkan manusia untuk melaksanakan Tarwih dengan dipimpin oleh imam bukanlah bid’ah, akan tetapi sebagai bentuk menampakkan dan menghidupkan sunnah. Karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah melaksanakan Tarwih ini dengan mengimami manusia pada malam 23, 25 dan 27 Ramadhan, tapi tatkala banyak manusia yang ikut sholat di belakang beliau, beliaupun meninggalkan pelaksanaannya karena takut turun wahyu yang mewajibkan sholat Tarwih sehingga akan menyusahkan umatnya sebagaimana yang disebutkan kisahnya oleh Imam Al-Buhkari dalam Shohihnya (no. 1129). Maka tatkala Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dan hilang kemungkinan sholat Tarwih menjadi wajib dengan terputusnya wahyu sehingga sholat Tarwih ini tetap pada hukum asalnya yaitu sunnah, maka ‘Umar radhiallahu ‘anhu lalu mengumpulkan manusia untuk melaksanakan sholat Tarwih secara berjama’ah.

2. Sesungguhnya ‘Umar radhiallahu ‘anhu tidak memaksudkan dengan perkataan beliau ini akan adanya bid’ah yang baik, karena yang beliau inginkan dengan “bid’ah” di sini adalah makna secara bahasa bukan makna secara syari’at, dan ini beliau katakan karena melihat keadaan zhohir dari sholat tarwih tersebut yaitu Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam meninggalkan pelaksanaan sholat tarwih setelah sebelumnya beliau melaksanakannya karena takut akan diwajibkannya sholat Tarwih ini atas umatnya.

Kalau ada yang bertanya : “Kalau memang beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam tinggalkan karena takut diwajibkan, lantas kenapa Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak melakukan apa yang dilakukan ‘Umar radhiallahu ‘anhu, padahal kemungkinan jadi wajibnya sholat Tarwih juga telah terputus di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dengan wafatnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam?”.

Maka kami jawab : “Tidak adanya pelaksanaan Tarwih berjama’ah di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu tidak keluar dari dua alasan berikut :

a. Karena beliau radhiallahu ‘anhu berpendapat bahwa sholatnya manusia di akhir malam dengan keadaan mereka ketika itu lebih afdhol daripada mengumpulkan mereka di belakang satu imam (berjama’ah) di awal malam, ini disebutkan oleh Imam Ath-Thurthusy rahimahullah.

b. Karena sempitnya masa pemerintahan beliau (hanya 2 tahun) untuk melihat kepada perkara furu’ (cabang) seperti ini, bersamaan sibuknya beliau mengurus masalah banyaknya orang yang murtad dan ingin menyerang Medinah ketika Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam wafat dan masalah-masalah yang lain yang lebih penting dan lebih darurat dilaksanakan dibandingkan sholat tarwih, ini disebutkan oleh Asy-Syathiby rahimahullah.

Maka tatkala sholat Tarwih berjama’ah satu bulan penuh tidak pernah dilakukan di zaman Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, tidak pula di zaman Abu Bakar radhiallahu ‘anhu dan tidak pula di awal pemerintahan ‘Umar radhiallahu ‘anhu, maka sholat Tarwih dengan model seperti ini (berjama’ah satu bulan penuh) dianggap bid’ah tapi dari sisi bahasa, yakni tidak ada contoh yang mendahuluinya. Adapun kalau dikatakan bid’ah secara syari’at maka tidak, karena sholat Tarwih dengan model seperti ini mempunyai asal landasan dalam syari’at yaitu beliau Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam pernah sholat Tarwih secara berjama’ah pada malam 23, 25 dan 27 Ramadhan, dan beliau meninggalkannya hanya karena takut akan diwajibkan atas umatnya, bukan karena alasan yang lain, Wallahu a’lam.

· Berkata Imam Asy-Syathiby dalam Al-I’tishom (1/250) : “Maka siapa yang menamakannya (sholat Tarwih berjama’ah satu bulan penuh) sebagai bid’ah karena dilihat dari sisi ini (yakni tidak pernah dilakukan oleh Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam walaupun memiliki asal dalam syari’at) maka tidak ada paksaan dalam masalah penamaan. Akan tetapi dalam keadaan seperti itu, maka tidak boleh berdalilkan dengannya (perkataan ‘Umar ini) akan bolehnya berbuat bid’ah dengan makna versi sang pembicara (yakni ‘Umar radhiallahu ‘anhu), karena ini adalah suatu bentuk pemalingan makna perkataan dari tempat sebenarnya”.

· Berkata Syaikhul Islam rahimahullah dalam Al-Iqthidho` Ash-Shirothol Mustaqim (hal. 276 –Darul Fikr) : “Dan yang paling banyak (didengang-dengungkan) dalam masalah ini adalah kisah penamaan ‘Umar radhiallahu ‘anhu terhadap sholat Tarwih bahwa itu adalah bid’ah bersamaan dengan baiknya amalan tersebut. Ini adalah penamaan secara bahasa bukan penamaan secara syari’at, hal itu dikarenakan bid’ah secara bahasa adalah mencakup semua perkara yang diperbuat pertama kali dan tidak ada contoh yang mendahuluinya sedangkan bid’ah secara syari’at adalah semua amalan yang tidak ditunjukkan oleh dalil syar’iy.

Maka jika Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam memberikan pernyataan yang beliau telah menunjukkan akan sunnahnya atau wajibnya suatu amalan setelah wafatnya beliau atau ada dalil yang menunjukkannya secara mutlak dan amalan tersebut tidak pernah diamalkan kecuali setelah wafatnya beliau, seperti pengadaan buku sedekah yang dikeluarkan oleh Abu Bakar radhiallahu ‘anhu, maka jika seseorang mengamalkan amalan tersebut setelah wafatnya beliau maka syah kalau dikatakan bid’ah tapi secara bahasa karena itu adalah amalan yang belum pernah dilakukan”.

3. Sesungguhnya para shahabat Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam dan para ulama salaf setelah mereka telah bersepakat menerima dan mengamalkan apa yang dilakukan oleh ‘Umar radhiallahu ‘anhu dan tidak pernah dinukil dari seorangpun di antara mereka ada yang menyelisihinya. Ini artinya perbuatan beliau adalah kebenaran dan termasuk syari’at, karena Rasulullah Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam telah menegaskan :

“Ummatku tidak akan bersepakat di atas suatu kesesatan”. (HR. At-Tirmizi)

Dan masih ada beberapa dalil yang lain yang tidak kami sebutkan di sini karena dalil-dalil tersebut hanyalah berupa perkataan dan ijtihad seorang ulama, yang kalaupun dianggap bahwa para ulama tersebut menyatakan seperti apa yang mereka katakan berupa adanya bid’ah yang baik dalam Islam, maka ucapan dan ijtihad mereka harus dibuang jauh-jauh karena menyelisihi hadits-hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam, wallahu A’lam.

Kesimpulan dari masalah ini adalah bahwa setiap perkara yang dianggap oleh sebagian ulama ataupun orang-orang yang jahil bahwa itu adalah bid’ah hasanah maka perkara tersebut tidak lepas dari dua keadaan :

1. Perkara itu bukanlah suatu bid’ah akan tetapi disangka bid’ah.

2. Perkara itu adalah bid’ah dan kesesatan akan tetapi dia tidak mengetahui akan kesesatan dan kejelekannya.

{Lihat : Al-Luma’ fir Roddi ‘ala Muhassinil Bida’ (hal. 8-54), Al-I’tishom (1/187-188 dan 228-270), Mauqif Ahlis Sunnah wal Jama’ah (1/106-117), Iqthidho` Ash-Shirothol Mustaqim (hal. 270-278), Al-Hatstsu ‘ala Ittiba’is Sunnah (hal. 42-44), dan Tuhfatul Murid Syarh Al-Qaulul Mufid (hal. 133-142)}

[Diringkas dari buku Studi Kritis Perayaan Maulid Nabi bab ketiga, karya Abu Muawiah Hammad -hafizhahullah-]

Kategori:Uncategorized

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M

21. Alat-alat Orkes untuk Hiburan

Soal : Bagaimana hukum alat-alat orkes (mazammirul-lahwi) yang dipergunakan untuk bersenang-senang (hiburan)? Apabila haram, apakah termasuk juga terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala dan seruling permainan anak-anak (damenan, Jawa)?

Jawab : Muktamar memutuskan bahwa segala macam alat-alat orkes (malahi) seperti seruling dengan segala macam jenisnya dan alat-alat orkes lainnya, kesemuanya itu haram, kecuali terompet perang, terompet jamaah haji, seruling penggembala, dan seruling permainan anak-anak dan lain-lain sebagainya yang tidak dimaksudkan dipergunakan hiburan.

Keterangan dari kitab Ihya’ Ulum al-Din:

فَبِهَذِهِ الْمَعَانِي يَحْرُمُ الْمِزْمَارُ الْعِرَقِيُّ وَ الْأَوْتَارُ كُلُّهَا كَالْعُوْدِ وَ الضَّبْحِ وَ الرَّبَّابِ وَ الْبَرِيْطِ وَ غَيْرِهَا وَمَا عَدَا ذَلِكَ فَلَيْسَ فِي مَعْنَاهَا كَشَاهِيْنٍ الرُّعَاةِ وَ الْحَجِيْجِ وَ شَاهِيْنٍ الطَّبَالِيْنَ.

“Dengan pengertian ini maka haramlah seruling Irak dan seluruh peralatan musik yang menggunakan senar seperti ‘ud (potongan kayu), al-dhabh, rabbab dan barith (nama-nama peralatan musik Arab). Sedangkan yang selain itu maka tidak termasuk dalam pengertian yang diharamkan seperti bunyi suara (menyerupai) burung elang yang dilakukan para penggembala, jama’ah haji, dan suara gendering”.

Sumber :
Buku “Masalah Keagamaan” Hasil Muktamar/ Munas Ulama NU ke I s/d XXX (yang terdiri dari 430 masalah) oleh KH. A. Aziz Masyhuri ketua Pimpinan Pusat Rabithah Ma’ahid Islamiyah dan Pengasuh Ponpes Al Aziziyyah Denanyar Jombang. Kata Pengantar Menteri Agama Republik Indonesia : H. Maftuh Basuni.

Hasil scan KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-1 Di Surabaya pada tanggal 13 Rabiul Tsani 1345 H/ 21 Oktober 1926 M

http://hijrahdarisyirikdanbidah.blogspot.com/2010/10/hukum-alat-musik-malahi-menurut.html

Kategori:Uncategorized

Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid’ah

oleh New Abu Warda pada 21 Juli 2012 pukul 13:12 ·
 

Kamis, 24 Nopember 2005 14:35:24 WIB

 

 

Keenam puluh delapan: SIKAP AHLUS SUNNAH TERHADAP AHLUL BID’AH

 

 

Oleh Al-Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas

 

 

 

Majalah As-Sunnah    http://almanhaj.or.id

 

 

بسم الله الرحمن الرحيم 

 

 

B. Penjelasan Tentang Keharusan Menjauhi Ahli Bid’ah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

هُوَ الَّذِي أَنزَلَ عَلَيْكَ الْكِتَابَ مِنْهُ آيَاتٌ مُّحْكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الْكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ ۖ فَأَمَّا الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ زَيْغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ ابْتِغَاءَ الْفِتْنَةِ وَابْتِغَاءَ تَأْوِيلِهِ ۗ وَمَا يَعْلَمُ تَأْوِيلَهُ إِلَّا اللَّهُ ۗ وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِّنْ عِندِ رَبِّنَا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

 

“Dia-lah yang menurunkan al-Kitab (Al-Qur-an) kepada kamu. Di antara (isi)nya ada ayat-ayat yang muhkamat itulah pokok-pokok isi Al-Qur-an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada ke-sesatan, maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari ta’wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: ‘Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyabihat, semuanya itu dari sisi Rabb kami.’ Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.” [Ali ‘Imran: 7]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

فَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ مَا تَشَابَهَ مِنْهُ فَأُوْلَئِكَ الَّذِيْنَ سَمَّى اللهُ فَاحْذَرُوْهُمْ.

 

“Apabila engkau melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat mutasyaabihaat, mereka itulah yang dimaksud oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.” [1]

 

وَإِذَا رَأَيْتَ الَّذِينَ يَخُوضُونَ فِي آيَاتِنَا فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ وَإِمَّا يُنسِيَنَّكَ الشَّيْطَانُ فَلَا تَقْعُدْ بَعْدَ الذِّكْرَىٰ مَعَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ 

 

“Dan apabila kamu melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaithan menjadikan kamu lupa (akan larangan ini), janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu).” [Al-An’aam: 68]

 

Imam asy-Syaukani rahimahullah (wafat th. 1250 H) berkata: “Dalam ayat ini terdapat nasihat yang agung bagi orang yang masih memperbolehkan untuk duduk bersama ahli bid’ah yang mereka itu mengubah Kalam Allah, dan mempermainkan Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan memahami Al-Qur-an dan As-Sunnah sesuai dengan hawa nafsu mereka yang menyesatkan dan sesuai dengan bid’ah-bid’ah mereka yang rusak. Maka sesungguhnya jika seseorang tidak dapat mengingkari mereka dan tidak dapat mengubah keadaan mereka, maka minimalnya ia harus meninggalkan duduk dengan mereka, dan yang demikian itu mudah baginya dan tidak sulit. Bisa jadi para ahli bid’ah itu memanfaatkan hadirnya seseorang di majelis mereka, meskipun ia dapat terhindar dari syubhat yang mereka lontarkan, tetapi mereka dapat mengkaburkan dengan syubhat tersebut kepada orang-orang awam, maka hadirnya seseorang dalam majelis ahli bid’ah merupakan kerusakan yang lebih besar dari sekedar kerusakan berupa mendengarkan kemunkaran. Dan kami telah melihat di majelis-majelis terlaknat ini yang jumlahnya banyak sekali dan kami bangkit untuk membela kebenaran, melawan kebathilan semampu kami, dan mencapai kepada puncak kemampuan kami. Barangsiapa mengetahui syari’at yang suci ini dengan sebenar-benarnya, maka dia akan mengetahui bahwa bermajelis dengan orang yang bermaksiyat kepada Allah dengan melakukan hal-hal yang diharamkan, lebih-lebih lagi bagi orang yang belum mapan ilmunya tentang Al-Qur-an dan As-Sunnah, maka ia mungkin sekali terpengaruh dengan kedustaan-kedustaan mereka berupa kebathilan yang jelas sekali, lalu kebathilan tersebut akan tergores di dalam hatinya sehingga sangat sulit sekali mencari penyembuh dan pengobatannya, meskipun ia telah berusaha sepanjang umurnya. Dan ia akan menemui Allah dengan kebathilan yang ia yakini tersebut sebagai kebenaran, padahal itu merupakan sebesar-besar kebathilan dan sebesar-besar kemunkaran.” [2]

 

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

 

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّىٰ يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ ۚ إِنَّكُمْ إِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

 

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al-Qur-an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” [An-Nisaa’: 140]

 

Sahabat Ibnu ‘Abbas Radhiyallahu anhuma berkata: “Masuk ke dalam ayat ini (menjauhkan) setiap orang yang mengadakan hal-hal baru dalam agama dan setiap orang yang berbuat bid’ah sampai hari Kiamat.[3]

 

Imam Muhammad bin Jarir ath-Thabari (wafat th. 310 H) rahimahullah dalam kitab Tafsirnya mengatakan: “Ayat ini merupakan dalil yang sangat jelas tentang larangan untuk ikut di dalam majelis ahli bid’ah dari setiap macam pelaku kebid’ahan dan orang-orang fasik yang mereka berbicara tentang kebathilan.” [4]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلاَّ كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّوْنَ وَأَصْحَابٌ، يَأْخُذُوْنَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُوْنَ بِأَمْرِهِ، ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوْفٌ يَقُوْلُوْنَ مَا لاَ يَفْعَلُوْنَ، وَيَفْعَلُوْنَ مَا لاَ يُؤْمَرُوْنَ، فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ، وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنَ اْلإِيْمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ.

 

“Tidak ada seorang Nabi pun yang diutus sebelumku kepada suatu ummat melainkan ia memiliki Hawaariyyun (pengikut-pengikutnya yang setia) dan juga Sahabat-Sahabatnya dari ummatnya yang senantiasa mengikuti Sunnahnya dan men-taati apa yang menjadi perintahnya. Kemudian sesudah me-reka akan muncul orang-orang yang selalu mengatakan apa-apa yang tidak mereka lakukan dan mengerjakan apa-apa yang tidak diperintahkan kepada mereka. Maka barangsiapa yang memerangi mereka dengan tangannya, maka ia adalah seorang Mukmin dan barangsiapa yang memerangi mereka dengan lisannya, maka ia adalah seorang Mukmin dan barang-siapa yang memerangi mereka dengan hatinya, maka ia adalah seorang Mukmin. Dan setelah itu tidak ada lagi iman meski hanya sebesar biji sawi.”[5]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

سَيَكُوْنُ فِي آخِرِ أُمَّتِيْ أُنَاسٌ يُحَدِّثُوْنَكُمْ مَا لَمْ تَسْمَعُوْا أَنْتُمْ وَلاَ آبَاؤُكُمْ، فَإِياَّكُمْ وَإِيَّاهُمْ.

 

“Akan datang di akhir umatku orang-orang yang berbicara kepada kalian apa-apa yang belum pernah kalian dengar, begitu pula bapak-bapak kalian belum pernah mendengarnya pula, maka hati-hatilah kalian terhadap mereka.”[6]

 

Juga atsar dari Sahabat ‘Umar bin al-Khaththab Radhiyallahu anhu, ia berkata:

 

سَيَأْتِي أُنَاسٌ يُجَادِلُوْنَكُمْ بِشُبُهَاتِ الْقُرْآنِ فَخُذُوْهُمْ بِالسُّنَنِ، فَإِنَّ أَصْحَابَ السُّنَنِ أَعْلَمُ بِكِتَابِ اللهِ.

 

“Akan datang suatu kaum yang mendebat kalian dengan syubhat-syubhat dari Al-Qur-an maka bantahlah mereka dengan Sunnah, karena orang yang berpegang kepada Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam lebih tahu tentang Kitab Allah.”[7]

 

Yang dimaksud dengan syubhat dalam atsar tersebut adalah ayat-ayat yang mutasyabihat karena di dalam Al-Qur-an tidak ada syubhat. [8]

 

Oleh karena itu, Ahlus Sunnah memposisikan setiap pelaku bid’ah berbeda antara yang satu dengan yang lainnya, merasa kasihan kepada orang-orang awam yang mengerjakan bid’ah dan yang mengikutinya, mendo’akan mereka agar mendapatkan hidayah dan mengharapkan mereka agar dapat mengikuti Sunnah dan petunjuk, serta senantiasa menjelaskan kepada mereka tentang hal demikian itu sampai mereka bertaubat dari kebid’ahannya, menghukumi mereka secara zhahirnya dan menyerahkan hal-hal yang rahasia (selain yang zhahir) kepada Allah, apabila perbuatan bid’ahnya bukan bid’ah yang menyebabkan pelakunya jatuh kepada kekafiran. [9]

 

Sesungguhnya ulama ahli hadits dan ahli fiqih telah membuat banyak bab dalam kitab-kitab mereka tentang menjauhi ahlul bid’ah, di antaranya:

 

1. Di dalam Sunan Abi Dawud (IV/198) karya Imam Abu Dawud as-Sijistani (wafat th. 275 H) rahimahullah, dicantumkan bab Mujaa-nabah Ahlil Ahwaa’ wa Bughdhihim (bab Menjauhi dan Membenci Pengikut Hawa Nafsu).

 

2. Di dalam al-Ibaanah (II/429) karya Ibnu Baththah al-Ukbari (wafat th. 387 H) rahimahullah, dicantumkan bab at-Tahdziir min Shuhbati Qaumin Yumridhuunal Quluuba wa Yufsiduunal Iimaan (Peringatan Tidak Bolehnya Bergaul dengan Kaum yang Dapat Membuat Hati Menjadi Sakit dan Merusak Iman).

 

3. Di dalam Kitaabul I’tiqaad (hal. 135) karya Imam al-Baihaqi (wafat th. 458 H) rahimahullah, dicantumkan bab an-Nahyu ‘an Mujaa-lasati Ahlil Bida’ (bab Larangan Berteman dan Bergaul dengan Ahlul Bid’ah).

 

4. Di dalam Syarhus Sunnah (I/219) karya Imam al-Baghawi (wafat th. 516 H) rahimahullah, dicantumkan bab Mujaanabah Ahlil Ahwa’ (bab Menjauhi Pengikut Hawa Nafsu).

 

5. Di dalam at-Targhiib wat Tarhiib (III/378) karya Imam al-Mundziri (wafat th 656 H) rahimahullah, dicantumkan bab at-Tarhiib min Hubbil Asyraar wa Ahlil Bida’ (Ancaman Mencintai Orang-Orang yang Melakukan Kejelekan dan Bid’ah). Lihat Shahiihut Targhiib wat Tarhiib (III/158).

 

6. Di dalam kitab al-Adzkaar [10] karya Imam an-Nawawi (wafat th. 676 H) rahimahullah dicantumkan bab at-Tabarri min Ahlil Bida’ wal Ma’ashi (bab Berlepas Diri dari Ahlul Bida’ dan Pelaku Maksiyat). [11]

 

Bahkan sebagian ulama menjadikannya sebagai salah satu landasan dasar dalam mencari ilmu dengan judul: Bab Larangan Menerima (Menimba/Belajar) Ilmu dari Ahlul Bid’ah. [12]

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

 

إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُلْتَمَسَ الْعِلْمُ عِنْدَ اْلأَصَاغِرِ.

 

“Sesungguhnya di antara tanda-tanda hari Kiamat adalah seseorang menimba ilmu dari al-Ashaaghir.” [13]

 

‘Abdullah Ibnul Mubarak rahimahullah menafsirkan bahwa kata al-Ashaaghir dalam hadits tersebut adalah Ahlul Bid’ah. [14]

 

[Disalin dari kitab Syarah Aqidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah, Penulis Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit Pustaka Imam Asy-Syafi’i, Po Box 7803/JACC 13340A Jakarta, Cetakan Ketiga 1427H/Juni 2006M] _______ Footnote [1]. HR. Al-Bukhari (no. 4547), Muslim (no. 2665) dan Abu Dawud (no. 4598) dari ‘Aisyah Radhiyallahu anhuma. [2]. Fat-hul Qadiir (II/128-129, cet. Daarul Fikr, th. 1393 H). [3]. Tafsiirul Baghawi (I/392, cet. I-Daarul Kutub Ilmiyyah, th. 1414 H). [4]. Tafsiiruth Thabari (IV/328, cet. Daarul Kutub al-‘Ilmiyah, th. 1412 H). [5]. HR. Muslim (no. 50) dan Ahmad (I/458), dari Sahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu. [6]. HR. Muslim (no. 6), dari Sahabat Abu Hurairah Radhiyallahu anhu. [7]. Diriwayatkan oleh ad-Darimi (I/49), al-Ajurri dalam asy-Syari’ah (no. 93, 102), lihat juga al-Ibaanah li Ibni Baththah al-‘Ukbari (I/250-251 no. 83-84) dan Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/139 no. 202). [8]. Catatan kaki Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/139). [9]. Lihat al-Wajiiz fii ‘Aqiidatis Salafish Shaalih (hal. 184). [10]. Pada halaman 441, tahqiq Syaikh ‘Abdul Qadir al-Arnauth. [11]. Lihat Shahiih Kitaabil Adzkaar wa Dha’iifuhu, tahqiq Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali (II/759). [12]. Hilyatu Thaalibil ‘Ilmi (hal. 39-45) oleh Syaikh Bakar Abu Zaid, lihat ‘Ilmu Ushuulil Bida’ (hal. 297). [13]. HR. Ibnul Mubarak dalam az-Zuhd (no. 61), al-Lalika-i (no. 102) dan yang lain-nya. Lihat Silsilatul Ahaadiits ash-Shahiihah (no. 695). [14]. Lihat Syarah Ushuul I’tiqaad Ahlis Sunnah wal Jamaa’ah (I/95 no. 102).

Kategori:Uncategorized

BANTAHAN TERHADAP DALIL-DALIL YANG MENGGUNAKAN HISAB

“BANTAHAN TERHADAP DALIL-DALIL YANG MENGGUNAKAN HISAB”

Dalil-dalil yang Menggunkan Hisab dan Bantahannya

1. Riwayat فَاقْدِرُوْا لَهُ, mereka maknakan: Tentukan dengan hisab (perhitungan bulan). Dan ini dikhususkan kepada orang yang mempunyai ilmu hisab, dan kata sempurnakan bulan tersebut, ini ditujukan untuk semua manusia.

Bantahannya:

Berkata Imam Malik, Asy-Syafi’i dan jumhur salaf dan khalaf bahwa makna فَاقْدِرُوْا لَهُ adalah sempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari. Hal ini ditafsirkan pada riwayat Muslim:

فَقْدِرُوْا ثَلاَثِيْنَ، فَاقْدِرُوْا ثَلاَثِيْنَ، فَصُوْمُوْا ثَلاَثِيْنَ وفي رواية البخاري فَأَكْمِلُوْا عِدَّةَ شَعْبَانَ ثَلاَثِيْنَ

“Maka takdirkan (cukupkan) 30 (hari), (cukupkan) 30 hari, maka berpuasalah 30 (hari).” Dalam riwayat Imam Al-Bukhari: “Maka sempurnakanlah jumlah (hitungan) bulan Sya’ban 30 (hari).”

(Lihat I’lam bi Fawaidil Umdah: 5/174)

Dan hadits yang menyatakan فَاقْدِرُوْا لَهُ dengan makna sempurnakan bulan Sya’ban menjadi 30 hari adalah hadits yang diriwayatkan oleh Al-Hakim (91/423) dan dalam As-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqy (4/204) dengan sanad yang shahih dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam berkata:

إِنَّ اللهَ تَعَالَى جَعَلَ الأَهِلَّةِ مَوَاقِيْتَ فَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَصُوْمُوْا وَإِذَا رَأَيْتُمُوْهُ فَأفْطِرُوْا فَإِنْ غُمَّ عَلَيْكُمْ فَاقْدِرُوْا لَهُ أتَمُوهُ ثَلاَثِيْنَ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala menjadikan hilal-hilal, waktu-waktu, maka jika kalian melihatnya (hilal, -pent) maka berpuasalah dan jika kalian melihatnya maka berbukalah. Jika tertutup atas kalian maka cukuplah baginya (bulan) dan sempurnakanlah (Sya’ban, -pent) 30 (hari).”

Dan inilah yang dipahami penafsirannya dari ahlul hadits yang mengeluarkan hadits-hadits tentang ru’yah seperti Imam Al-Bukhary sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Fathul Bary 4/120, dan Imam Malik sebagaimana yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Abdil Bar dalam At-Tahmid (2/39-40). Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Rusaknya pendapat yang menyatakan hisab karena mereka berhujjah dengan hadits Ibnu ‘Umar sedangkan Ibnu ‘Umar juga meriwayatkan hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَةُ لاَنَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الْهِلاَلُ هَكَذَا هَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummiyah, tidak (bisa) menulis dan tidak (bisa) menghitung, hilaal adalah begini dan begini.”

Mereka berkata: Perintah menggunakan ru’yah disebabkan karena Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan kita adalah umat yang tidak dapat menulis dan menghitung. Dan hukum itu berlaku atau tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya sebab itu. Maka jika umat sudah mampu menghitung dan menulis, ru’yah dan hisab bisa digunakan kedua-duanya dalam menentukan arah bulan.

Bantahannya:

Sesungguhnya hikmah dan sebab disyariatkannya melihat hilal adalah karena mudahnya dan bisa diketahui oleh seluruh manusia, yang mana dua hal ini menyebabkan umat bersatu dan terhindar dari perpecahan dan perselisihan. Sebagaimana hal ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyah (Majmu’ Al-Fatawa jilid 25), Ibnu Al-Araby dalam Aaridhatul Ahwadzi, Ibnu Hajar dalam Al-Fath 4/122.

Berkata Ibnu Bathal dalam Irsyadul Ahlil Millah: “Kami tidak dibebankan dalam mengetahui waktu-waktu puasa dan ibadah melalui perhitungan dan penulisan, sesungguhnya ibadah kami ditandai dengan alamat-alamat yang jelas dan perkara-perkara yang mudah.”

Berkata As-Subky dalam ‘Ilmu Mansyur hal. 9: “Perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam: ‘Bulan ini jumlahnya begini dan begini.’ Beliau shallallaahu ‘alaihi wa sallam memberi isyarat dengan tangannya. Di sini beliau memberi isyarat penentuan bulan adalah perkara yang sangat dimudahkan dan meniadakan penggunaan hisab yang menyulikan.”

Berkata Adz-Dzahaby dalam Siyar A’lam An-Nubala 14/191-192:

“Perkataan Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam yang menyatakan:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَةُ لاَنَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الْهِلاَلُ هَكَذَا هَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummiyah, tidak (bisa) menulis dan tidak (bisa) menghitung, hilaal adalah begini dan begini.”

Di sini beliau menafikan penulisan dan hisab dari umatnya menurut kebanyakannya, karena sesungguhnya ada di antara mereka yang mampu menghitung sebagaimana firman Allah Ta’ala:

وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابِ

Artinya: “Supaya kalian tahu jumlah tahun dan perhitungannya.”

Di antara mereka ada yang pandai ilmu warisan yang membutuhkan ilmu hisab, dan tapi tetap saja Rasulullah nafikan hal itu dari umatnya. Ini tidak lain untuk menjelaskan bahwa Islam adalah agama yang mudah dan memudahkan dalam seluruh pelaksanaan syariat.

3. Dalil Qiyas terhadap shalat yang ditentukan dengan hisab

Qiyas ini asalnya bathil sebab shalat yang ditentukan waktunya dengan hisab tidak didasari dengan dalil Al-Qur’an, Sunnah, maupun dalil Ijma’. Dan syarat dalil qiyas apabila hal yang diqiyaskan kepadanya bersandar kepada Al-Qur’an, Sunnah dan Ijma’. Dan seandainya shalat yang ditentukan dengan hisab adalah betul maka terjadi qiyas ma’al-fariq (antara pengkiasan shalat dan puasa Ramadhan terdapat perbedaan). Karena shalat ditentukan waktunya dengan mengetahui tanda masuk waktunya apakah dengan melihat langsung atau dengan mengetahui tanda-tandanya yang menunjukkan waktu shalat telah masuk, kalau Ramadhan tidak ditentukan dengan keluar atau datangnya hilal tetapi Ramadhan hanya ditentukan dengan melihat hilal dan bila tidak melihat maka disempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari sebagaimana hal ini dinyatakan oleh Rasulullah dalam hadits. (Lihat Fiqh An-Nawazil 2/214-215)

Penyelisihan Hisab terhadap Syari’at

– Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menetapkan waktu, setiap bulannya dengan 29 hari dan paling banyaknya 30 hari sebagaimana sabda beliau:

((الشَّهْرُ يَكُوْنُ تِسْعًا وَعِشْرِيْنَ وَيَكُوْنُ ثَلاَثِيْنَ)) رواه البخاري ومسلم والنسائى

“Bulan Kadang 29 (hari) dan kadang 30 (hari).” (HR. Al-Bukhari, Muslim, An-Nasa’i)

Sedangkan perhitungan hisab, paling cepatnya bulan ditentukan dengan jumlah 29 hari,12 jam dan 44 menit.

– Rasulullaah shallallaahu ‘alaihi wa sallam menyatakan penetapan bulan Ramadhan dengan melihat hilal atau menyempurnakan Sya’ban menjadi 30 hari bila hilal terhalang oleh kabut dan atau awan. Adapun ahli hisab menyatakan jika perhitungan menyatakan hilal muncul di hari ke-29, baik itu hilalnya terlihat atau tidak maka sudah dapat ditetapkan bahwa bulan Ramadhan telah masuk.

– Syariat menyatakan penentuan bulan adalah perkara yang sangat mudah, bisa diketahui oleh semua manusia dan tidak menyusahkan dalam menentukan datangnya. Sebagaimana yang diketahui bahwa pelaksanaan syari’at dan ibadah dalam Islam adalah mudah dan bisa dilaksanakan oleh semua orang. Adapun hisab sebaliknya, hanya diketahui sebagian orang dan pelaksanaannya sulit.

(Lihat Majmu’ Al-Fatawa 25/134-136, 139-141)

Celaan-celaan Ulama terhadap Hisab

– Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata:

“Rusaknya hujjah yang menyatakan tentang hisab, terlihat ketika mereka berdalilkan dengan hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi فَاقْدِرُوْالَهُ dengan tafsirannya taqdirkanlah/tentukanlah dengan hisab. Sedangkan Ibnu ‘Umar meriwayatkan hadits yang membantah adanya hisab melalui hadits Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam:

إِنَّا أُمَّةٌ أُمِّيَةُ لاَنَكْتُبُ وَلاَ نَحْسُبُ، الْهِلاَلُ هَكَذَا هَكَذَا

“Sesungguhnya kami adalah umat yang ummiyah, tidak (bisa) menulis dan tidak (bisa) menghitung, hilaal adalah begini dan begini.”

Maka tidak mungkin hadits Ibnu ‘Umar yang berbunyi فَاقْدِرُوْا لَهُ ditafsirkan dengan hisab.” (Majmu’ Al-Fatawa 25/182)

– Para ulama memasukkan orang yang menggunakan hisab sebagai orang-orang yang mengambil tuntunan agama bukan dari Rasulullah, mereka itu sama dengan ahlul bid’ah kelompok Syi’ah bahkan mereka sama dengan bid’ahnya ahlul kitab dari ahlu so’bah yang hanya menggunakan hisab tanpa menggunakan ru’yah. (Majmu’ Al-Fatawa 25/179)

– Berkata Ibnu Bazizah: “Hisab adalah madzhab batil karena sesungguhnya syari’at telah melarang berkecimpung dalam ilmu perbintangan (ilmu hisab) karena ilmu tersebut didasari dengan dugaan dan perkiraan bukan dengan hal yang pasti atau dugaan yang kuat.” (Lihat Al-Fath 4/159, Subulus Salam 2/242)

– Berkata Ibnu Mulaqqin: “Hisab adalah pendapat yang sangat lemah dan sesungguhnya manusia bila dibebankan dengan cara ini tentu akan memberatkan mereka karena hisab tidak diketahui kecuali oleh sebagian kecil dari mereka. Dan syari’at yang diberlakukan kepada mereka adalah mudah dipahami dan diamalkan oleh seluruh manusia. Dan juga ilmu perhitungan hisab itu berbeda-beda pada setiap tempat dan negara maka ini akan menyebabkan perpecahan di antara mereka.” (Lihat Al-I’lam bi Fawaidil Umdah Al-Ahkam 5/176-177)

– Berkata Ibnu Al-Araby: “Madzhab hisab adalah madzhab yang jauh dari pemahaman orang-orang yang pandai maka terlebih lagi dari pemahaman para ulama.” (Lihat Al-Qabs 2/483 dan Al-Aridhah 3/208)

https://almuslimah.wordpress.com/2008/08/31/polemik-seputar-ruyah-dan-hisab/

Kategori:Uncategorized

BINGUNG MENJAWAB JAZAKALLAHU KHOIR

Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)- jazahumullahu khairan (mereka)

Banyak orang yang sering mengucapkan “waiyyak (dan kepadamu juga)” atau “waiyyakum (dan kepada kalian juga)” ketika telah dido’akan atau mendapat kebaikan dari seseorang. Apakah ada sunnahnya mengucapkan seperti ini? Lalu bagaimanakah ucapan yang sebenarnya ketika seseorang telah mendapat kebaikan dari oranglain misalnya ucapan “jazakallah khair atau barakalahu fiikum”? 

Berikut fatwa Ulama yang berkaitan dengan ucapan tersebut:

Asy Syaikh Muhammad ‘Umar Baazmool, pengajar di Universitas Ummul Quraa Mekah, ditanya: Beberapa orang sering mengatakan “Amiin, waiyyaak” (yang artinya “Amiin, dan kepadamu juga”) setelah seseorang mengucapkan “Jazakallahu khairan” (yang berarti “semoga ALLAH membalas kebaikanmu”). Apakah merupakan suatu keharusan untuk membalas dengan perkataan ini setiap saat?

Beliau menjawab:Ada banyak riwayat dari sahabat dan dari Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam, dan ada riwayat yang menjelaskan tindakan ulama. Dalam riwayat mereka yang mengatakan “Jazakalahu khairan,” tidak ada yang menyebutkan bahwa mereka secara khusus membalas dengan perkataan “wa iyyaakum.”

Karena ini, mereka yang berpegang pada perkataan “wa iyyaakum,” setelah doa apapun, dan tidak berkata “Jazakallahu khairan,” mereka telah jatuh ke dalam suatu yang baru yang telah ditambahkan (untuk agama).

Al-Allamah Asy-Syaikh Al-Muhaddits Abdul Muhsin Al-Abbad hafizhahullah Ta’ala ditanya: apakah ada dalil bahwa ketika membalasnya dengan mengucapkan “wa iyyakum” (dan kepadamu juga)?

Beliau menjawab:“tidak ada dalilnya, sepantasnya dia juga mengatakan “jazakallahu khair” (semoga Allah membalasmu kebaikan pula), yaitu dido’akan sebagaimana dia berdo’a, meskipun perkataan seperti “wa iyyakum” sebagai athaf (mengikuti) ucapan “jazaakum”, yaitu ucapan “wa iyyakum” bermakna “sebagaimana kami mendapat kebaikan, juga kalian” ,namun jika dia mengatakan “jazakalallahu khair” dan menyebut do’a tersebut secara nash, tidak diragukan lagi bahwa hal ini lebih utama dan lebih afdhal.”

Asy Syaikh Ahmad bin Yahya An Najmi ditanya: Apa hukumnya mengucapkan, “Syukran (terimakasih)” bagi seseorang yang telah berbuat baik kepada kita?

Beliau menjawab:Yang melakukan hal tersebut sudah meninggalkan perkara yang lebih utama, yaitu mengatakan, “Jazaakallahu khairan (semoga ALLAH membalas kebaikanmu.” Dan pada Allah-lah terdapat kemenangan.

Ada beberapa ketentuan dalam mengucapkan jazakallah:- jazakallahu khairan (engkau, lelaki)- jazakillahu khairan (engkau, perempuan)- jazakumullahu khairan (kamu sekalian)- jazahumullahu khairan (mereka)

Dalil sunnah dalam menjawab doa “Jazakallahu khoyron” adalah :

Dari Anas bin Malik rodhiyallohu anhu ia berkata: Usaid bin al-Hudhoir an-Naqib al-Asyhali datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam, maka ia bercerita kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam tentang sebuah keluarga dari Bani Zhofar yang kebanyakannya adalah wanita, maka Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam membagi kepada mereka sesuatu, membaginya di antara mereka, lalu Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam berkata :

تركتَنا -يا أسيد!- حتى ذهب ما في أيدينا، فإذا سمعتَ بطعام قد أتاني؛ فأتني فاذكر لي أهل ذلك البيت، أو اذكر لي ذاك. فمكث ما شاء الله، ثم أتى رسولَ الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طعامٌ مِن خيبر: شعيرٌ وتمرٌ، فقسَم النبيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في الناس، قال: ثم قسم في الأنصار فأجزل، قال: ثم قسم في أهل ذلك البيت فأجزل، فقال له أسيد شاكرًا له: جزاكَ اللهُ -أيْ رسولَ الله!- أطيبَ الجزاء -أو: خيرًا؛ يشك عاصم- قال : فقال له النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وأنتم معشرَ الأنصار! فجزاكم الله خيرًا- أو: أطيب الجزاء-، فإنكم – ما علمتُ- أَعِفَّةٌ صُبُرٌ

“Engkau meninggalkan kami wahai Usaid, sampai habis apa-apa yang ada pada kami, jika engkau mendengar makanan mendatangiku, maka datangilah aku dan ingatkan padaku tentang keluarga itu atau ingatkan padaku hal itu.”

Maka setelah beberapa saat, datang kepada Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam makanan dari khoibar berupa gandum dan kurma, maka Nabi shollallohu alaihi wa sallam membaginya kepada manusia. Ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada kaum Anshor lalu makanan itupun menjadi banyak, lalu ia berkata: kemudian beliau membaginya kepada keluarga tersebut lalu makanan itupun menjadi banyak. 

Lalu Usaid pun mengucapkan rasa syukurnya kepada Nabi: “Jazakallohu athyabal jaza’ –atau khoiron- (Semoga Alloh membalasmu -yaitu kepada Rosululloh- dengan sebaik-baik balasan –atau kebaikan), Ashim (perawi hadits, pent) ragu-ragu dalam lafadznya, lalu ia berkata : Nabi shollallohu alaihi wa sallam kemudian membalasnya : wa antum ma’syarol Anshor, fa jazakumullohu khoiron –atau athyabal jaza’ (dan Kalian wahai sekalian kaum Anshor, semoga Alloh membalas kalian dengan kebaikan –atau sebaik-baik balasan), sesungguhnya setahuku kalian adalah orang-orang yang sangat menjaga kehormatan lagi penyabar…”[HR. an-Nasa’i no. 8345, ath-Thobroni dalam Mu’jam al-Kabir no. 567, Ibnu Hibban no. 7400 & 7402, Abu Ya’la al-Mushili dalam Musnadnya no. 908, dll. Dishohihkan syaikh al-Albani dalam ash-Shohihah no. 3096]

Begitu pula terdapat contoh atsar para salaf yang mengamalkan ucapan ini. Imam Bukhori rohimahulloh meriwayatkan dalam al-Adabul mufrod dengan sanadnya dari Abu Murroh, maula Ummu Hani’ putri Abu Tholib:

:أنه ركِبَ مع أبي هُريرة إلى أرضِه بالعقيق، فإذا دَخَلَ أرْضَهُ صَاح بأعلى صوتِه : عليكِ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه يا أُمتاه! تقولوعليكَ السَّلامُ ورحمةُ اللهِ وبركاتُه، يقول: رحمكِ اللهُ؛ ربَّيْتِني صغيرًافتقول: يا بُنيّ! وأنتَ فجزاكَ اللهُ خيرًا، ورضي عنك؛ كما بَرَرْتَني كبيرًا

Bahwasanya ia berkendara bersama Abu Huroiroh ke kampung halamannya di ‘Aqiiq. Ketika ia sampai di rumahnya ia berkata dengan mengeraskan suaranya: “Alaikissalam warohmatullohi wabarokatuh wahai ibuku.”Lalu ibunya berkata :” wa’alaikassalam warohmatullohi wabarokatuh.”Ia berkata (bersyukur kepada ibunya, pent) : “Rohimakillah (semoga Alloh merahmatimu wahai ibu), engkau telah merawatku ketika aku masih kecil.”Maka ibunya berkata : “Wahai anakku wa anta fajazakallohu khoiron, semoga Alloh meridhoimu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku saat engkau sudah besar.”[HR. al-Bukhori dalam al-Adabul Mufrod no. 15, syaikh al-Albani rohimahulloh berkata: “sanadnya hasan” dalam shohih al-Adabul Mufrod no. 11]

Dalam Thobaqot al-Hanabilah diriwayatkan:أنبأنا المبارك عن أبي

إسحاق البرمكي حدثنا محمد بن إسماعيل الوراق حدثنا علي بن محمد قال: حدثني أحمد بن محمد بن مهران حدثنا أحمد بن عصمة النيسابوري حدثنا سلمة بن شبيب قال: عزمت على النقلة إلى مكة فبعت داري فلما فرغتها وسلمتها وقفت على بابها فقلت: يا أهل الدار جاورناكم فأحسنتم جوارنا جزاكم الله خيراً وقد بعنا الدار ونحن على النقلة إلى مكة وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته قال: فأجابني من الدار مجيب فقال: وأنتم فجزاكم الله خيرا ما رأينا منكم إلا خيرا ونحن على النقلة أيضاً فإن الذي اشترى منكم الدار رافضي يشتم أبا بكر وعمر والصحابة رضي الله عنهم.

Dari Salamah bin Syabib, ia berkata : aku ingin pindah ke Mekkah, lalu akupun menjual rumahku. Ketika urusannya selesai aku pamit kepada tetanggaku dan mengucapkan salam sambil berdiri di depan pintu rumahnya, aku berkata: “Wahai tetanggaku, kami telah hidup bertetangga dengan kalian dan kalianpun telah berbuat baik dalam bertetangga dengan kami, jazakumulloh khoiron, aku telah menjual rumah kami dan kami akan pindah ke Mekkah, wa’alaikumussalam warohmatulloh wa barokatuh.”Lalu seseorang dari rumah itu menjawab: “wa antum fajazakumulloh khoiron, tidaklah kami melihat pada kalian melainkan kebaikan, tapi kami mau pindah juga karena ternyata yang membeli rumah kalian adalah seorang Rofidhoh (syi’ah) yang mencela Abu Bakr, Umar dan pada shahabat rodhiyallohu anhum.”[Thobaqot al-Hanabilah 1/65, Maktabah Syamilah]

Semoga bermanfaat, Wallahu ta’ala a’lam bissowab.

Muraja’:
– sunniforum.com/forum/showthread.php?t=3105
– darussalaf.or.id/stories.php?id=1520
– Hisnul Muslim, Syaikh Said bin Ali Al Qathani

Kategori:Uncategorized

Salafi atau Anti Salafi ???

Orang-orang “salafi” (yang bermanhaj Salaf) tuh aneh dan ngeselin, karna kalo berdalil soal Islam selalu bawa-bawa Al-Qur’an, Hadist-hadist shahih, ijma para sahabat dan ulama-ulama yang mengikuti manhaj mereka. Mereka tuh bodoh dan pengecut, karna gak pernah berani pake akal dan pendapat mereka kalo berdalil. Gak seperti guru mereka (anti Salafi) yang berani gak pake dalil kalo berbicara dan beramal karena tingginya ilmu mereka (menurut mereka).

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin, karna kalo beribadah gak suka berinovasi, nambah-nambahin, padahal itu kan baik dan apa salahnya?. Maunya nurut Al-Qur’an, hadist-hadist shahih, ijma para sahabat dan ulama-ulama yang mengikuti manhaj mereka. Beda sekali dengan guru2 mereka (anti Salafi) yang suka nambah2in ibadah, biar bisa mengalahkan ibadahnya para shahabat Nabi.

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin, mereka gak pernah ikut-ikutan ngadain perayaan dan peringatan yang gak pernah dilakukan dan dicontohkan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dan oleh para Sahabat Rodhiyallahu Anhum Jami’an. Maunya ngikut Al-Qur’an, Hadist-hadist shahih, ijma para sahabat dan ulama-ulama yang mengikuti manhaj mereka. Berbeda dengan guru mereka (anti Salafi) yang merayakan karena saking cintanya kepada Nabi, bahkan cintanya guru mereka kepada Nabi bisa melebihi cintanya Abu Bakar dan Umar kepada Nabi sendiri, karena Abu Bakar dan Umar tidak merayakan acara tersebut.

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin. Mereka tuh “gerombolan” yang patuh dan taat banget sama ulil amri (penguasa). Boro-boro mau demontrasi, orasi, mencela aib pemimpin-pemimpinnya, untuk urusan kapan lebaran aja mereka manut apa kata pemerintah. Kalo mereka anti sekali sama penguasa, gak perlu taat sama penguasa (mumpung Nabi sudah wafat, jadi boleh tidak taat (anti Salafi) sama penguasa, kecuali terpaksa karena mau nikah biar bisa dinikahkan di KUA).

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin. Mereka “males” banget kalo disuruh ‘bersholawat’ kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan cara mereka, apalagi bersholawat pake rebana atau music dan nyanyi2. Mereka mau bersholawat hanya dengan dalil atau kalimat yang diajarkan dan keluar langsung dari mulut Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mulia, pada waktu-waktu yang dianjurkan. Beda dengan mereka (anti Salafi)… yang katanya pecinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, katanya rajin sholawatan, tapi nulis sholawat dibelakang nama Nabi aja males, pake disingkat …SAW (gergaji).

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin. Penampilannya menyeramkan atau malu2in bagi orang awam, pasang jenggot lebat, celana ngatung diatas mata kaki, yang perempuannya banyak yang pake cadar, mereka sabar dicela dan dihina orang karena penampilannya, tidak lain karena berpegang teguh kepada ‘sunnah’. Berbeda dengan mereka (anti Salafi) yang tampil modern (tidak mau kuno) biar diridhai sama manusia (bukan mencari ridha Allah), sehingga wajah2 mereka menjadi ‘cantik’ seperti artis sinetron atau artis korea (karena jenggotnya dicukur bersih), dan wanita2nya berjilbab seksi untuk menyegarkan pandangan pria hidung belang.

Orang-orang “salafi” tuh aneh dan ngeselin. Sebentar-bentar Tauhid…sebentar-bentar Syirik…sebentar-bentar Sunnah…sebentar-bentar bid’ah…kayak Nabi aja…bikin pemecah belah umat (Nabi shalallahu alaihi wasallam juga dibilang pemecah belah oleh kaum musyrikin, pemecah belah antara ayah dengan anaknya, kakak dengan adiknya, dll). Berbeda dengan guru2 mereka (anti Salafi) yang sebentar-bentar nyanyi pake musik (marawis), sebentar-bentar nangis berjamaah, sebentar-bentar demo, sebentar-bentar merusak fasilitas umum, sebentar-bentar menutup jalan.

Jadi, yang benar yang mana sich? Yang Salafi atau Anti Salafi?
Kalau Salafi itu adalah pengikut Salafush Shalih (shahabat Nabi), berarti yang anti Salafi apa ya? Habibi (pengikut Habib)?!
Kalau hanya Islam doank, bukankah Islam itu terbagi menjadi 73 golongan dan semuanya masuk neraka kecuali 1?
Siapakah yang satu itu???
Bingung?? Yuk ngaji!!!….

(terinspirasi dari komentar akhi Agung Wibowo, dengan beberapa perubahan dan tambahan).

Copas dari Abu Fahd Negara Tauhid

Kategori:Uncategorized